Friday, 3 July 2020

Sejarah seni di indonesia

Sejarah seni di indonesia

Lukisan ialah karya seni rupa dua dumensi yang dibuat dengan media lukis mirip kanvas, kertas dan lain sebagainya, yang dibuat dengan beberapa macam alat mirip pensil, cat air, cat akrilik, kuas dan alat lain. Seiring perkembangan jaman, ternyata lukisan tidak spesialuntuk dalam bentuk dua dimensi saja tetapi ada juga yang tiga dimensi. melaluiataubersamaini nilai estetika yang tinggi, hasil karya seni rupa murni berupa lukisan ini sanggup sangat mahal harganya, terlebih jika hasil karya seorang maestro. Tidak jarang para kolektor rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk karya tersebut.


 Lukisan ialah karya seni rupa dua dumensi yang dibuat dengan media lukis mirip kanvas Sejarah dan Perkembangan Seni lukis di Indonesia, The history of painting in Indonesia.

Perkembangan seni rupa Indonesia khususnya seni lukis tidak banyak diketatahui. Hal itu lantaran karya tulis yang mengupas parjalanan seni rupa masih sedikit dan terbatas pada kalangan akademis. Namun, akhir-akhir ini banyak seniman yang mengupas dan menulis seputar seni dan kesenian di Indonesia, terutama ihwal seni lukis. Secara garis besar perkembangan seni rupa Indonesia meliputi seni prasejarah, sejarah seni Indonesia-Hindu, seni Indonesia-Islam, dan seni Indonesia Modern.

Seni Lukis Prasejarah Indonesia.

Pada zaman prasejarah, seni lukis memegang peranan penting lantaran setiap lukisan mempunyai makna dan maksud tertentu. Pada zaman tersebut lukisan dibuat pada dinding-dinding gua dan karang. Salah satu metode yang digunakan oleh orang-orang gua untuk melukis di dinding-dinding gua ialah dengan menempelkan tangan di dinding gua, kemudian disemprot dengan kunyahan daun-daunan atau kerikil mineral berwarna. Teknik menyemprot ini dikenal dengan nama aerograph. Media lain yang digunakan untuk membuat lukisan ialah tanah liat. Pewarna yang digunakan berasal dari bahan-bahan alami mirip mineral dan lemak binatang. Pada umumnya tujuan dan tema yang dipilih untuk membuat lukisan-lukisan tersebut ialah magis.


 Lukisan ialah karya seni rupa dua dumensi yang dibuat dengan media lukis mirip kanvas Sejarah dan Perkembangan Seni lukis di Indonesia, The history of painting in Indonesia.

misal karya seni lukis yang dihasilkan pada zaman prasejarah sanggup dilihat di Gua Leang Pattakere di Maros, Sulawesi Selatan. Lukisan tersebut menggambarkan adegan perburuan. Selain itu, ada juga lukisan pada dinding-dinding gua di pantai selatan Irian Jaya (Papua). Lukisan yang terdapat di tempat tersebut menggambarkan nenek moyang. Hal yang menarikdanunik perhatian pada lukisan yang tersebar di kawasan yang amat luas itu ialah siluet tangan yang terdapat di manamana. Cap tangan ini terdapat pula di Sulawesi Selatan, pada lukisan di tebing kerikil di teluk Sulaeman Seram, di teluk Berau Papua, dan di pulau Arguni dan di kepulauan Kei. Selain motif bayangan tangan, motif yang terdapat di banyak tempat ialah sosok manusia, perahu, matahari, bulan, burung, ikan, kura-kura, manusia, kadal, kaki, dan babi rusa.
Seni Lukis Hindu Klasik Indonesia.

Sesudah zaman prasejarah berakhir, bangsa Indonesia sudah mempunyai banyak sekali macam keahlian mirip pembuatan kerikil besar berbentuk piramida berundak, seni tuang logam, pertanian dan peralatannya, seni pahat, serta pembuatan batik yang dikembangkan dengan penambahan unsur-unsur gres pada waktu masuknya dampak Hindu. Zaman ini ialah babak gres dalam periodisasi kebudayaan di Indonesia dan sanggup dikatakan sebagai zaman sejarah lantaran pada zaman ini sudah ditemukan peninggalan berupa tulisan. Hal ini terjadi lantaran adanya kontak kebudayaan dengan India sekitar kurun ke-5 M.

Tema yang umum digunakan pada suatu karya seni pada masa ini antara lain tema agama, mitologi, legenda, dan dongeng sejarah. contohnya lukisan Bali Klasik yang meliputi dongeng Ramayana dan Mahabharata. Gaya yang digunakan pada pahatan dinding candi zaman Majapahit ialah gaya wayang dengan komposisi bidang mendatar yang padat dan sarat dengan stilasi. Sebutan gaya wayang di sini mengatakan tanda persamaan dalam stilasi bentuk tokoh dongeng wayang kulit dan lukisan Bali Klasik. Warna lukisan terbatas pada warna-warna yang sanggup dicapai materi alami mirip kulit kayu, daun-daunan, tanah, dan jelaga. Lukisan dibuat pada kain memanjang tanpa dipasang pada bingkai rentang sehingga akhirnya mirip lukisan gulungan. Seperti juga pahatan dinding candi dan gambar lontar, fungsi dari lukisan Bali Klasik ialah sebagai media pendidikan sesuai dengan anutan agama atau falsafah hidup zaman Hindu.

Seni lukis di Bali mulai berlangsung ketika kebudayaan Hindu Jawa Timur terdesak oleh kebudayaan Islam. Keberadaan seni lukis yang menyatu dan berakulturasi dengan kebudayaan Hindu menjadi khas dan dikenal oleh banyak sekali negara hingga kini. Perkembangan seni lukis Hindu-Bali sanggup diuraikan dalam tiga bagian, yaitu seni lukis Kamasan, seni lukis Pita Maha, dan seni lukis Seniman Muda.
Seni Lukis Islam Indonesia.

Seperti pada zaman Hindu, kesenian Islam di Indonesia berpusat di istana. Seorang seniman tugasnya tidak semata-mata membuat karya seni, akan tetapi ia juga spesialis dalam banyak sekali ilmu pengetahuan dan filsafat, di samping mengenal cabang seni lainnya. Pada seni Islam, terdapat suatu pantangan untuk melukiskan motif makhluk hidup dalam bentuk realistis. Para seniman melaksanakan upaya kompromistis dengan kebudayaan sebelumnya.


 Lukisan ialah karya seni rupa dua dumensi yang dibuat dengan media lukis mirip kanvas Sejarah dan Perkembangan Seni lukis di Indonesia, The history of painting in Indonesia.

Dalam hal ini toleransi Islam mendukung proses kesinambungan tradisi seni rupa sebelumnya, tetapi dengan nafas baru, mirip hiasan dengan motif stilasi hewan dan insan dipadukan dengan aksara Arab, baik dalam penerapan elemen estetis pada mesjid, penggarapan seni kriya, lukisan atau kaligrafi. Adapun pembuatan patung, dibuat demikian tersamar sehingga seperti citra ini spesialuntuk berupa hiasan dedaunan atau flora.

Biasanya lukisan dibuat sebagai hiasan yang menggambarkan cerita-cerita tokoh dalam pewayangan atau lukisan hewan candra sangkala dan ihwal riwayat nabi. Adapun bentuk lukisan yang disamarkan mirip lukisan beling yang berasal dari Cirebon.
Seni Lukis Indonesia Baru.

Seni lukis Indonesia gres yang berkembang di Indonesia mirip juga kesenian pada umumnya tidak sanggup sepenuhnya dipahami tanpa menempatkannya dalam keseluruhan kerangka masyarakat dan kebudayaan Indonesia. Perkembangan karya seni lukis Indonesia dipengaruhi berpengaruh oleh kekuatan sejarah. Seni lukis Indonesia gres berkembang setelah masa seni lukis Islam. dan seni lukis pada masa ini mengalami perkembangan yang sangat pesat seiring dengan perkembangan senirupa indonesia dimana tokohnya mirip Raden Saleh, Affandi, Basuki Abdullah dan kawan-kawan yang sudah saya pernah posting sebelumnya dan sanggup anda baca disini.

Perkembangan Seni Lukis Indonesia Baru.
Seni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme membuat banyak pelukis Indonesia ikut menyebarkan aliran ini.

Raden Saleh Syarif Bustaman ialah salah seorang ajudan yang cukup beruntung sanggup mempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktikkan pelukis Belanda. Raden Saleh kemudian melanjutkan berguru melukis ke Belanda, sehingga berhasil menjadi seorang pelukis Indonesia yang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa. Namun seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama mirip zaman renaisans Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama. Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah "kerakyatan". Objek yang berafiliasi dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, lantaran dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme yang terkenal pada masa itu. Selain itu, alat lukis mirip cat dan kanvas yang semakin susah didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan abstraksi.

Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950an lebih menentukan membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga era ekspresionisme dimulai. Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda. Perjalanan seni lukis Indonesia semenjak perintisan R. Saleh hingga awal kurun XXI ini, terasa masih terombang-ambing oleh banyak sekali benturan konsepsi.

Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran keberhasilan sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif atau seni kontemporer, dengan munculnya seni konsep (conceptual art): “Installation Art”, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul banyak sekali alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan banyak sekali gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi ialah bisnis alternatif investasi.

Sebutan seni rupa Indonesia modern tidak sanggup dilepaskan dari tradisi berkesenian di Eropa. Persentuhan seni Indonesia dengan seni modern sudah berjalan usang dan mendalam sehingga secara eksklusif atau tidak sudah menimbulkan hubungan atau kontak budaya.

Seni rupa modern di Eropa diproklamirkan semenjak munculnya aliran post impresionisme (awal kurun ke-18). Saat itu ruang kebebasan untuk mencipta karya seni terbuka lebar yang diawali dengan tumbuhnya perilaku individualistis dalam berkarya. Sikap individualistis semakin kokoh dengan makin maraknya eksperimen-eksperimen kaum seniman, baik dari problem bahan, metode, maupun pengungkapan (ekspresi) berkesenian mereka.

Persentuhan seni kolektif Indonesia dan seni modern Eropa berjalan melalui pelukis-pelukis Eropa yang hadir ke Indonesia. Persentuhan itu secara perlahan namun niscaya sudah menggugah individu-individu tertentu untuk membuka lembaran gres dalam berkesenian, yakni seni rupa baru. Pada zaman seni rupa Indonesia gres ini, terjadi beberapa perkembangan mirip diberikut.

Masa Raden Saleh (Perintisan).

Pada pertengahan kurun ke-19, dunia seni lukis atau seni gambar seniman-seniman Indonesia masih mengacu pada gaya tradisional yang berkembang di daerah-daerah. Sebagian besar karya seni tersebut menyimpan potensi dbuntutatif. Misalnya, lukisan di Bali dan Jawa serta ornamen di Toraja dan Kalimantan.

Masa Indonesia Jelita (Mooi Indie).



 Lukisan ialah karya seni rupa dua dumensi yang dibuat dengan media lukis mirip kanvas Sejarah dan Perkembangan Seni lukis di Indonesia, The history of painting in Indonesia.

Sebagian andal memandang Raden Saleh Syarif Bustaman (1807–1880) sebagai perintis seni lukis modern Indonesia. Ungkapan ini tidak hiperbola mengingat Raden Saleh ialah orang Indonesia pertama yang menerima bimbingan melukis secara khusus dari pelukis-pelukis bergaya naturalis dan realis keturunan Belgia yang pernah tinggal di Indonesia, yakni A.A.J. Payen. Atas rekomendasi Payen dan didukung oleh C. Reinwart, Raden Saleh berpeluang berguru ke Eropa. Pada masa itu, berguru ke Eropa masih tergolong langka bagi kebanyakan penduduk Indonesia. Namun, lantaran Raden Saleh dipandang mempunyai talenta besar dan masih keturunan aristokrat maka keberangkatannya ke Eropa tak ada yang sanggup menghalangi. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang berguru seni rupa ke luar negeri. Di Eropa, Raden Saleh menerima bimbingan dari pelukis potret terkemuka, Cornellius Krusemen dan pelukis pemandangan alam, Andreas Schefhout.

Masa Cita - Cita Nasional.


S. Sudjojono (1913–1986) sebagai penggerak kelompok ini sama sekali tidak pernah berguru seni rupa ke Eropa. Pelukis-pelukis yang tergabung ke dalam kelompok ini antara lain Agus Djaya Suminta, L. Sutioso, Rameli, Abdul Salam, Otto Jaya, S. Sudiarjo, Emiria Sunassa, Saptarita Latif, Herbert Hutagalung, S. Tutur, Hendro Jasmara, dan Sutioso.

Untuk memperkokoh gerakan dan menyamakan persepsi, kelompok ini kemudian membentuk Perkumpulan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) pada 1938 di Jakarta. Karena tujuan utamanya ialah menggalang solidaritas nasional antarseniman lokal dalam menyebarkan seni lukis yang bercorak Indonesia asli, mereka senantiasa membuat sketsa-sketsa ihwal corak kehidupan masyarakat ketika itu di banyak sekali tempat.

Sepulang dari Eropa, Abdullah S.R. (1878–1941) bermukim di Bandung dan kemudian menyebarkan gaya melukis sendiri, yang kemudian dikenal dengan sebutan Indonesia Jelita (Mooi Indie). Gaya ini menekankan pada keelokan dan suasana kehidupan bangsa Indonesia dengan alamnya yang rindang dan masyarakatnya yang tentram. Pemandangan alam ialah objek lukisan yang sangat dominan. Apa saja yang indah dan romantis terlihat sangat bahagia, tenang, dan damai. Lukisan-lukisan itu spesialuntuk membawa satu makna, yaitu ‘Indies yang molek’ bagi orang absurd dan para wisatawan.

Sebenarnya sebelum gaya ini dikembangkan Abdullah S.R, sudah hadir pelukispelukis absurd yang sengaja diundang oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk bekerja sebagai pelukis pesanan. Pelukis-pelukis tersebut antara lain W. G. Hofker (Belanda), R. Locatelli (Italia), Le Mayeur (Belanda), Roland Strasser (Swiss), E. Dezentje (Belanda), dan Rudolf Bonnet (Belanda).

Masa Pendudukan Jepang.


Pada zaman pendudukan Jepang, tepatnya pada 1942, PERSAGI dipaksa bubar. Seniman yang lahir dari kalangan grass root (akar rumput), yakni masyarakat bawah, jumlahnya semakin banyak. Pada 1945, Jepang mendirikan sebuah forum dengan nama Jepang Keimin Bunka Shidoso (Pusat Kebudayaan) yang pengajarnya ialah mantan anggota PERSAGI mirip Agus Djaya Suminta dan S. Sudjojono. Mereka yang menyediakan masukana untuk kegiatan berkesenian.

Pada masa ini, sekalipun kehidupan perekonomian masyarakat Indonesia serba belum sempurnanya, namun kehidupan berkesenian tampak berkobar-kobar. Para pelukis pun menerima angin segar dari tentara pendudukan Jepang. Angin segar ini dimanfaatkan oleh para pelukis Indonesia untuk melaksanakan pameran. Tujuannya di samping memamerkan karya-karya pelukis lokal, juga sebagai ajang penyebaran rasa kebangsaan kepada masyarakat luas. Pelukis yang turut serta memamerkan karya lukisnya ialah Basuki Abdullah, Affandi, Kartono Yudhokusumo, Nyoman Ngedon, Hendra Gunawan, Henk Ngantung, dan Otto Jaya.

Masa Seni Lukis setelah Kemerdekaan.


 Lukisan ialah karya seni rupa dua dumensi yang dibuat dengan media lukis mirip kanvas Sejarah dan Perkembangan Seni lukis di Indonesia, The history of painting in Indonesia.

Keadaan negara setelah proklamasi kemerdekaan 1945 tidak menghentikan acara kesenian. Saat itu seni lukis dijadikan media untuk berjuang. Perkembangan seni lukis di Indonesia mengatakan kemajuan yang pesat lantaran seni lukis sudah menyatu dengan semangat usaha kemerdekaan bangsa. Jiwa kepahlawanan ini dibuktikan dalam bentuk poster-poster usaha dan lukisan bagan di tengah-tengah pertempuran. Salah seorang pelukis yang pernah melaksanakan hal itu ialah Djajengasmoro bersama kelompok Pelukis Front-nya.

Pindahnya sentra pemerintahan ke Yogyakarta pada 1946 diikuti dengan hijrahnya para pelukis. Kota Yogyakarta pun menjadi sentra para pelukis. Pada 1946 di Yogyakarta, Affandi, Rusli, Hendra Gunawan, dan Harijadi membentuk perkumpulan Seni Rupa Masyarakat. Setahun kemudian, yaitu pada 1947 mereka bergabung dengan perkumpulan Seniman Indonesia Muda (SIM) yang dibuat pada 1946 di Madiun dengan pencetus Sudjojono.
Masa Seni Lukis  zaman Pendidikan Formal.

Pada 1949, R. J. Katamsi dengan beberapa seniman anggota SIM, Pelukis Rakjat, POETRA, dan Budayan Taman Siswa merintis perguruan Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang sekarang menjelma ISI. Tujuan didirikannya perguruan ini ialah untuk mencetak calon-calon seniman. Para tokoh ASRI antara lain S. Soedjojono, Hendra Gunawan, Djajengasmoro, Kusnadi, dan Sindusiswono.


 Lukisan ialah karya seni rupa dua dumensi yang dibuat dengan media lukis mirip kanvas Sejarah dan Perkembangan Seni lukis di Indonesia, The history of painting in Indonesia.

Sementara itu, di Bandung pada 1950-an bangkit pula Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar yang dipelopori oleh Syafe’i Soemardja. Ia dimenolong oleh Mochtar Apin, Ahmad Sadali, Sudjoko, dan Edi Karta Subarna. Sejak 1959, forum ini berubah nama menjadi jurusan Seni Rupa pada Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pada 1964, bangkit pula jurusan Pendidikan Seni Rupa IKIP Bandung (saat ini berjulukan Universitas Pendidikan Indonesia) yang dipelopori oleh Barli, Karmas, Popo Iskandar, Radiosuto, dan Wiyoso Yudoseputo. Sebagian alumni Jurusan Seni Rupa IKIP Bandung yang menekuni seni lukis ialah seniman Oho Garha, Nana Banna, Hidayat, Dadang MA, dan Hardiman. Beberapa tahun kemudian dibuka jurusan seni rupa di IKIP lainnya di seluruh Indonesia.

Masa Seni Lukis Baru di Indonesia.

Sejalan dengan perkembangan teknologi dan masyarakat yang mulai maju, sekitar 1974 lahirlah kelompok seniman muda di banyak sekali daerah. Para seniman muda yang tergabung dalam gerakan ini antara lain Jim Supangkat, S. Prinka, Satyagraha, F. X. Harsono, Dede Eri Supria, dan Munni Ardi. Mereka menampilkan corak gres dalam penggarapan karyanya. Pameran perdana karya mereka yang diadakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta banyak mengundang perhatian masyarakat. Karya-karya para seniman muda yang kebanyakan masih kuliah itu didasari oleh alasan-alasan sebagai diberikut.


 Lukisan ialah karya seni rupa dua dumensi yang dibuat dengan media lukis mirip kanvas Sejarah dan Perkembangan Seni lukis di Indonesia, The history of painting in Indonesia.

Membongkar peristilahan seniman sebagai atribut yang spesialuntuk dilekatkan pada kalangan akademis saja, sementara masyarakat kecil yang bergiat dalam kesenian tidak menerima tempat yang semestinya.

Menggugat batasan-batasan seni yang sudah usang dipancangkan oleh seniman tua. Ini berarti menghindari adanya pembingkaian seni dalam satu beling mata.

Berusaha membuat sesuatu yang gres dengan banyak sekali media, konsep berkarya, dan lain-lain. Penciptaan karya seni tersebut tidak terkecuali seni yang diterapkan pada hal yang dipandang sakral.

Daftar Pelukis Terkenal di Indonesia.


 Lukisan ialah karya seni rupa dua dumensi yang dibuat dengan media lukis mirip kanvas Sejarah dan Perkembangan Seni lukis di Indonesia, The history of painting in Indonesia.

Berkembangnya seni lukis di Indonesia, membawa munculnya seniman-senimat hebat dari tanah air. Seniman lukis dari Indonesia juga memegang peranan yang sangat penting dalam kekayaan budaya di Indonesia, dan diberikut ialah daftar nama-nama pelukis terkenal dan berbakat yang berasal dari tanah air:

  • Affandi
  • Agus Djaya
  • Bagong Kussudiardja
  • Barli Sasmitawinata
  • Basuki Abdullah
  • Djoko Pekik
  • Dwi Januartanto
  • Dullah Suweileh
  • Ferry Gabriel
  • Hendra Gunawan
  • Herry Dim
  • Jeihan
  • Kartika Affandi
  • Lee Man Fong
  • Mario Blanco
  • Idris
  • Otto Djaya
  • Popo Iskandar
  • Raden Saleh
  • Sudjojono
  • Srihadi
  • Sri Warso Wahono
  • Trubus
  • Atim Pekok
  • Darpo.S

No comments:

Post a Comment